Jumat, 27 Oktober 2017

Pembelajaran Terpadu : Keterampilan Dasar Mengajar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Mengajar adalah satu pekerjaan profesional yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Sebagaimana halnya pekerjaan profesional yang lain, pekerjaan seorang guru menuntut keahlian tersendiri sehingga tidak setiap orang mampu melakukan pekerjaan tersebut sebagaimana mestinya. Ada seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Perangkat kemampuan tersebut disebut kompetensi guru. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, seorang guru dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan sosial.
Kompetensi pedagogis berkenaan dengan kemampuan mengelola pembelajaran dalam rangka mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dmiliki peserta didik. Salah satu kemampuan yang dituntut dari kompetensi ini adalah kemampuan melaksanakan pembelajaran yang mendidik. Agar dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan baik, di samping menguasai berbagai kemampuan, guru dipersyaratkan untuk menguasai keterampilan dasar mengajar, yang merupakan salah satu aspek penting dalam kompetensi guru.
B.     Rumusan Masalah
a)      Apa pengertian Keterampilan Dasar Mengajar?
b)      Apa alasan pentingnya Keterampilan Dasar Mengajar ?
c)      Apa saja macam dari Keterampilan Dasar Mengajar ?
C.    Tujuan
a)      Mengetahui Keterampilan dasar mengajar
b)      Mengetahui Alasan pentingnya keterampilan dasar mengajar
c)      Mengetahui macam dari keterampilan dasar mengajar



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Keterampilan Dasar Mengajar
Istilah mengajar sering disatukan dengan belajar, sehingga sudah menjadi satu kalimat majemuk “kegiatan belajar mengajar” (KBM), proses belajar mengajar (PBM) dan untuk menyebutkan kedua istilah tersebut, saat ini disatukan dengan “pembelajaran”. Dengan demikian jika disebut “pembelajaran” itu berarti menunjukkan proses kegiatan yang melibatkan unsur belajar dan mengajar.
Mengajar (teaching) memiliki banyak pengertian, mulai dari pengertian yang sudah lama (tradisional) sampai pada pengertian yang terbaru (kontemporer). Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses menyampaikan informasi atau pengetahuan dari guru, dosen, instruktur kepada siswa. Merujuk pada pengertian mengajar tersebut, inti dari mengajar adalah proses menyampaikan (transfer) atau memindahkan. Memang dalam mengajar ada unsur menyampaikan atau transfer dari guru, dosen, instruktur kepada siswa. Akan tetapi pengertian memindahkan tersebut bukanseperti seorang memindahkan air minum dari satu cangkir ke cangkir yang lain. Air yang dipindahkan dari satu cangkir ke cangkir yang lain volumenya akan tetap sama bahkan karena mungkin terjadi proses penguapan,maka volume air yang dipindahkan itu akan semakin berkurang (menyusut) dari keadaan sebelumnya. Oleh karena itu mengajar yang diartikan proses menyampaikan (transfer), maknanya adalah “menyebarluaskan atau memperkaya” pengalaman belajar siswa sehingga dapat mengembangkan potensi siswa secara maksimal.
Keterampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan atau keterampilan yang khusus yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan professional. Dengan demikan keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa kemampuan atau keterampilan yang bersifat mendasar dengan beberapa kemampuan atau keterampilan yang bersifat mendasar dan melekat harus dimiliki dan diaktualisasikan oleh setiap guru, dosen, atau instruktur dalam melaksanakan tugasnya.

B.     Alasan Pentingnya Keterampilan Dasar Mengajar
Keterampilan Dasar Mengajar merupakan hal yang perlu dimiliki oleh guru dari semua bidang studi. Jika dipertimbangkan bahwa bidang-bidang studi yang bermacam-macam mempunyai ciri-ciri pengajaran yang khas, keterampilan mengajar untuk bidang-bidang studi khusus perlu dikembangkan. Perkembangan dunia pendidikan menggunakan media dan teknologi saat ini menyebabkan kekhasan ciri pengajaran dari masing-masing studi makin tampak, dan perbedaannya dengan pengajaran bidang studi lain makin nyata.
Dalam kegiatan mengajar, begitu banyak hal yang harus diperhitungkan oleh guru misalnya:
1.         Keadaan siswa.
2.         Tujuan yang akan dicapai.
3.         Sifat materi yang akan menjadi bahan ajar.
4.         Keadaan sarana.
Mengajar termasuk kegiatan yang kompleks, karena melibatkan kemampuan guru/mahasiswa calon guru untuk menguasai materi, teknik pengelolaan PBM, Pengelolaan waktu, Pengendalian disiplin, Pelayanan terhadap perbedaan kemampuan siswa, Sikap terhadap profesi, Sikap terhadap siswa.
Menurut UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, terutama Pasal 1 guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Sementara itu, tenaga pendidik adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat Dengan munculnya UU ini guru/dosen sudah diakui sebagai tenaga professional setara dengan profesi lain. Yang dimaksud profesional di sini adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

C.    Macam-Macam dari Keterampilan Dasar Mengajar
Menurut hasil penelitian (Turney, 1979), terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan:
a.      Keterampilan Bertanya
Dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh seorang guru tidaklah lepas dari guru memberikan pertanyaan dan murid memberikan jawaban yang diajukan.
Pada kenyataannya di lapangan ada banyak guru yang tidak menguasai teknik-teknik dalam memberikan pertanyaan kepada siswa sehingga banyak pertanyaan tersebut hanya bersifat knowledge saja artinya kebanyakan hanya mengandalkan ingatan.
1.      Alasan Perlunya Keterampilan Bertanya
Ada 4 alasan mengapa seorang guru perlu menguasai keterampilan bertanya. Alasan itu antara lain:
Pertama, pada umumnya guru masih cenderung mendominasi kelas dengan metode ceramahnya. Guru masih beranggapan bahwa dia adalah sumber informasi, sedangkan siswa adalah penerima informasi. Oleh karena itu, siswa bersikap pasif dan menerima, tanpa keinginan dan keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang menimbulkan keraguannya. Dengan dikuasainya keterampilan bertanya oleh guru, siswa dapat menjadi lebih aktif, kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bervariasi dan siswa dapat berfungsi sebagai sumber informasi.
Kedua, kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat kita tidak membiasakan anak untuk bertanya sehingga keinginan anak untuk bertanya selalu terpendam. Situasi seperti ini menular ke dalam kelas. Kesempatan bertanya yang diberikan oleh guru tidak banyak dimanfaatkan oleh siswa, sedangkan guru tidak berusaha untuk menggugah keinginan siswa untuk bertanya.
Ketiga, penerapan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA) dalam kegiatan pembelajaran menuntut keterlibatan siswa secara mental intelektual. Salah satu ciri dari pendekatan ini adalah keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang memang perlu dipertanyakan. Hal ini hanya mungkin terjadi jika guru sendiri menguasai keterampilan bertanya yang mampu menggugah keinginan

Keempat, adanya anggapan bahwa pertanyaan yang diajkukan guru hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
2.      Komponen-Komponen Keterampilan Bertanya
Pada dasarnya keterampilan bertanya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Setiap jenis keterampilan bertanya tersebut akan diuraikan lebih terperinci  berikut ini:
a)      Keterampilan Bertanya Dasar
Keterampilan bertanya dasar terdiri atas 7 komponen. Ketujuh komponen-komponen itu ialah sebagai berikut:
1.      pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat. Hal ini bertujuan agar pertanyaan yang diberikan guru mudah dipahami oleh siswa.
2.      pemberian acuan, acuan dapat diberikan pada awal pertanyaan maupun sewaktu-waktu saat guru akan memberikan pertanyaan. Acuan tersebut berupa informasi yang perlu diketahui siswa. Hal ini bertujuan sebagai pedoman  bagi siswa dalam menjawab pertanyaan.
3.      pemusatan, yaitu memfokuskan perhatian siswa agar terpusat pada inti masalah tertentu sesuai dengan pertanyaan.
4.      pemindahan giliran, siswa pertama memberikan jawaban, kemudian guru meminta siswa kedua melengkapi jawaban siswa pertama, lalu siswa ketiga dan seterusnya. Hal ini dapat mendorong siswa untuk selalu memperhatikan jawaban yang diberikan temannya serta meningkatkan interaksi antarsiswa.
5.      penyebaran, berarti menyebarkan giliran untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Guru menunjukkan pertanyaan kepada seluruh siswa kemudian menyebarkan pertanyaan secara acak sehingga semua siswa siap untuk mendapat giliran.
6.      pemberian waktu berpikir, guru mengajukan pertanyaan kemudian menunggu beberapa saat untuk siswa berpikir bar kemudian meminta atau menunjuk siswa untuk menjawab pertanyaan.
7.      pemberian tuntunan, agar siswa yang tidak bisa menjawab atau siswa yang bisa menjawab namun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan setelah memperoleh tuntunan dari guru siswa tersebut akan mampu memberikan jawaban yang diharapkan.
b)     Keterampilan Bertanya Lanjut
Sesuai dengan namanya, penguasaan atas keterampilan bertanya lanjut dibentuk berdasarkan penguasaan keterampilan bertanya dasar. Ini berarti bahwa ketika menerapkan keterampilan bertanya lanjut, guru juga menerapkan atau menggunakan keterampilan bertanya dasar. Komponen keterampilan bertanya lanjut terdiri dari:
1.      pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan, guru diharapkan memberikan pertanyaan yang bersifat pemahaman, aplikasi (penerapan), alalisis dan sintesis, evaluasi, dan kreasi. Pertanyaan yang bersifat ingatan hendaknya dibatasi sesuai dengan sifat materi dan karakteristik siswa.
2.      pengaturan urutan pertanyaan, agar kemampuan berpikir siswa dapat berkembang secara baik dan wajar. Pertanyaan pada tingkat tertentu hendaknya dimantapkan, kemudian beralih ke tingkat pertanyaan yang lebih tinggi. Hal itu dikarenakan agar tidak membingungkan siswa dan tidak menghambat perkembangan kemampuan berpikir siswa.
3.      penggunaan pertanyaan pelacak, hal ini bertujuan agar guru dapat membimbing siswa untuk mengembangkan jawabannya.
4.      peningkatan terjadinya interaksi, merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterlibatan mental intelektual siswa secara maksimal.
5.      Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mendemonstrasikan pemahamannya tentang informasi yang diberikan
6.      Melibatkan siswa dalam memanfaatkan kesimpulan yang dapat mendorong mengembangkan proses berpikir
7.      Mengembangkan kebiasaan menanggapi pernyataan teman atau pernyataan guru
8.      Memberi kesempatan untuk belajar berdiskusi
9.      Membentu siswa menyetakan perasaan dan pikiran yang murni
b.      Keterampilan Memberikan Penguatan
1.      Pengertian Dan Tujuan Memberi Penguatan
Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku atau perbuatan yang dianggap baik tersebut.
Dalam kegiatan pembelajaran, penguatan mempunyai peran penting dalam meningkatkan keefektifan kegiatan pembelajaran. Pujian atau respons positif guru terhadap perilaku perbuatan siswa yang positif akan membuat siswa merasa senang karena dianggap mempunyai kemampuan. Namun sayangnya, guru sangat jarang memuji perilaku atau perbuatan siswa yang positif. Yang sering terjadi adalah guru menegur atau memberi respons negatif terhadap perbuatan siswa yang negatif. Oleh karena itu, guru perlu melatih diri sehingga terampil dan terbiasa memberikan penguatan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:
1.      Meningkatkan perhatian siswa
2.      Membangkitkan dan memelihara motivasi siswa
3.      Memudahkan siswa belajar
4.      Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang positif
5.      Menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa
6.      Memlihara iklim kelas yang kondusif
2.      Komponen Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan pada dasarnya dapat diberikan dalam dua jenis yaitu penguatan verbal dan penguatan nonverbal. Komponen-komponen keterampilan memberikan penguatan yang harus dikuasai oleh guru berkaitan dengan keterampilan menggunakan kedua jenis penguatan tersebut ialah sebagai berikut:
a)      Penguatan Verbal
Penguatan verbal merupakan penguatan yang paling mudah digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yang dapat diberikan dalam bentuk komentar, pujian, dukungan, pengakuan atau dorongan yang diharapkan dapat meningkatkan tingkah laku dan penampilan siswa. Komentar, pujian, dan sebaganya tersebut dapat diberikan dalam bentuk kata-kata dan kalimat.
b)      Penguatan Non-Verbal
Penguatan nonverbal dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain ialah sebagai berikut:
1.      Mimik dan gerakan badan
2.      Gerak mendekati
3.      Sentuhan
4.      Kegiatan yang menyenangkan
5.      Pemberian simbol atau benda
c)      Penguatan Tak Penuh
Selain kedua jenis penguatan di atas, ada satu cara pemberian penguatan yang disebut dengan penguatan tak penuh. Sesuai dengan namanya, penguatan tak penuh diberikan untuk jawaban atau respons siswa yang hanya sebagian benar, sedangkan bagian lainnya masih perlu diperbaiki. Untuk itu guru berkata: “Bagian pertama dari jawaban Anda sudah benar, tetapi alasan yang Anda berikan belum mantap”. Kemudian guru meminta siswa lain untuk memperbaiki jawaban yang masih perlu diperbaiki tersebut. Dengan cara seperti itu, siswa akan memahami kualitas jawabannya sehingga penguatan yang diberikan guru benar-benar bermakna.
c.       Keterampilan Mengadakan Variasi
1.      Pengertian Dan Tujuan
Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan/dibuat untuk memberikan kesan yang unik. Tanpa variasi hidup ini akan menjadi membosankan.
Variasi dalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal sebagai berikut:
a)      Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar
b)      Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu
c)      Mengembangkan keinginan siswa untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru
d)     Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam
e)      Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
2.      Komponen-Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
Pada dasarnya variasi dalam kegiatan pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yakni:
a)      Variasi dalam gaya mengajar
b)      Variasi dalam pola interaki
c)      Variasi dalam penggunaan alat bantu pembelajaran
d.      Keterampilan Menjelaskan
1.      Pengertian dan Tujuan
Menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik yang bertujuan untuk menunjukkan hubungan, antara sebab akibat, yang diketahui dan yang belum diketahui.
Dari segi etimologis, kata menjelaskan mengandung makna “membuat sesuatu menjadi jelas”. Dalam kegiatan terkandung makna pengkajian makna secara sistematis sehingga yang menerima penjelasan memiliki gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satu dengan informasi lainnya. Misal hubungan informasi baru dengan lama, hubungan sebab akibat, hubungan antara teori dan praktik, atau hubungan antara dalil-dalil dengan contoh.
Kegiatan menjelaskan mempunyai beerapa tujuan. Tujuan-tujuan tersebut antara lain ialah:
a)      Membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, dalil, dan sebagainya secara objektif dan bernalar.
b)      Membimbing siswa menjawab pertanyaan “mengapa” yang muncul dalam proses pembelajaran.
c)      Meningkatkan keterlibatan siswa dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berpikir yang lebih sistematis.
d)     Mendapatkan balikan dari siswa tentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang dijelaskan dan untuk mengatasi salah pengertian.
e)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penalaran dalam penyelesaian ketidakpastian.
Sementara itu, penguasaan keterampilan menjelaskan akan memungkinkan guru untuk:
a)      Meningkatkan efektivitas pembicaraan di kelas sehingga benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa.
b)      Memperkirakan tingkat pemahaman siswa terhadap penjelasan yang diberikan.
c)      Membantu siswa menggali pengetahuan dari berbagai sumber.
d)     Mengatasi kekurangan berbagai sumber belajar.
e)      Menggunakan waktu secara efektif.
2.      Komponen-Komponen Keterampilan Menjelaskan
Keterampilan memberi penjelasan dapat dikelompokkan menjad dua bagian besar, yaitu:
a)      Keterampilan Merencanakan Penjelasan
1)      Merencanakan isi pesan (materi) pembelajaran, merupakan tahap awal dalam proses menjelaskan. Di dalamnya mencakup: (1) Menganalisis masalah yang akan dijelaskan secara keseluruhan termasuk unsur-unsur yang terkait, (2) Menetapkan jenis hubungan antara unsur-unsur yang berkaitan tersebut, (3) Menelaah hukum, rumus, prinsip atau generalisasi yang mungkin dapat digunakan dalam menjelaskan masalah yang ditentukan.
2)      Menganalisis karakteristik penerimaan pesan, agar guru mampu mengetahui apakah siswanya sudah paham tentang materi yang dijelaskan atau masih belum paham.


b)     Keterampilan menyajikan penjelasan
1)      Kejelasan ucapan dalam berbicara, sangat menentukan kualitas suatu       penjelasan.
2)      Penggunaan contoh dan ilustrasi, agar penjelasan akan lebih menarik dan mudah dipahami.
3)      Pemberian tekanan, agar siswa lebih menangkap inti permasalahan yang djelaskan.
4)      Balikan, untuk memeriksa pemahaman siswa dengan cara mengajukan pertanyaan atau ekspresi wajah siswa setelah mendengarkan penjelasan guru.
e.       Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
1.      Pengertian dan Manfaat
Keterampilan membuka pelajaran merupakan keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam memulai kegiatan pembelajaran sedangkan keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam mengakhiri kegiatan pelajaran.
Keterampilan membuka pelajaran dalam pembelajaran terpadu dapat memberi manfaat untuk:
a)      Menyiapkan mental siswa memasuki kegiatan inti pembelajaran;
b)      Membangkitkan motivasi dan perhatian siswa (attention) dalam mengikuti kegiatan pembelajaran;
c)      Memberikan gambaran yang jelas tentang aktivitas belajar yang akan dilakukan dan batas-batas tugas yang harus dikerjakan siswa;
d)     Menyadarkan siswa akan adanya keterkaitan antar pengalaman yang sudah dimiliki dengan tema yang akan dipelajarinya
Keterampilan menutup pelajaran bermanfaat bagi guru dalam mengakhiri pembelajaran terpadu dengan kegiatan bermakna. Secara lebih rinci lagi, keterampilan menutup pelajaran dalam pembelajaran terpadu dapat memberikan manfaat untuk:
a)      Menetapkan pemahaman siswa terhadap proses dan hasil belajar yang telah dilaluinya;
b)      Mengetahui tingkat keberhasilan dari pelaksanaan pembelajaran terpadu;
c)      Menetapkan kegiatan tindak lanjut yang harus dilakukan siswa untuk mengembangkan kompetensi yang telah dikuasinnya.
2.      Tujuan Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Adapun tujuan dari keterampilan membuka dan menutup pelajaran, yakni :
a)      Menimbulkan perhatian dan motivasi siswa terhadap tugas-tugas yang akan dihadapi.
b)      Memungkinkan siswa mengetahui batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan.
c)      Siswa dapat mengetahui pendekatan-pendekatan yang akan digunakan dalam mempelajari bagian-bagian pelajaran.
d)     Memungkinkan siswa mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari.
3.      Komponen Keterampilan Membuka Pelajaran
a)      Menumbuhkan perhatian siswa
1)      Variasi gaya mengajar guru;
2)      Penggunaan media pembelajaran yang tepat dan dapat menarik;
3)      Penggunaan pola interaksi pembelajaran yang bervariasi;
b)     Membangkitkan motivasi siswa
1)      Memperlihatkan sikap hangat dan antusias;
2)      Menumbuhkan rasa ingintahu (curiosity);
3)      Mengemukakan ide yang beretentangan;
4)      Memperhatikan minat siswa.
c)      Memberi acuan
1)      Mengemukakan tujuan dan batas tugas;
2)      Menjelaskan langkah pembelajaran;
3)      Mengingatkan inti tema yang akan dipelajari;
4)      Mengajukan pertanyaan.
d)     Membuat kaitan dalam hal ini guru harus berusaha mengaitkan tema baru yang akan dipelajari dengan pengetahuan, pengalaman, minat, dan kebutuhan siswa.
4.      Komponen Keterampilan Menutup Pelajaran
a)      Meninjau Kembali (Review)
Untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang telah dibahas maka pada setiap akhir penggal kegiatan pembelajaran terpadu, guru perlu melakukan peninjauan kembali tentang penguasaan siswa tersebut.
b)     Melakukan Penilaian
1)      Melakukan Tanya-jawab secara lisan;
2)      Meminta salah seorang siswa untuk menunjukkan kemampuan sebagai hasil belajarnya;
3)      Meminta salah seorang siswa untuk mengaplikasikan hasil belajar yang diperolehnya didalam kelas;
4)      Meminta siswa untuk menyatakan pendapat tentang bahan dan kegiatan belajar dari tema yang telah dibahas;
5)      Memberikan soal tertulis yang dapat dikerjakan oleh siswa diluar kelas atau di PR kan (Takehome Examination).
f.       Keterampilan Membimbing diskusi Kelompok Kecil
1.      Pengertian
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dalam melibatkan sekelompok siswa dalam interaksi  tatap muka kooperatif yang optimal dengan tujuan berbagai informasi atau pengalaman, mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah. Beberapa hal agar diskusi berjaalan dengan baik, yaitu:
a)      Diskusi hendaknya berlangsung dalam iklim yang bebas dan penuh dengan keterbukaan, kehangatan hubungan antar pribadi, keantusiasan berpartisipasi, kesediaan menerima dan menghargai pendapat orang lain.
b)      Perencanaan yang matang akan mempertinggi efektivitas diskusi, perencanaan meliputi:
c)      Pemilihan topik atau masalah.
d)     Perencanaan dan penyiapan bahan-bahan pengait.
e)      Menyiapan diri sebaik-baiknya sebagai pimpinan diskusi.
f)       Penetapan besarnya kelompok.
g)      Pengaturan tempat duduk yang menyenangkan.
2.      Komponen-Komponen Keterampilan Membimbing Diskusi Kelomopok Kecil
a)      Pemusatan Perhatian.
Selama diskusi berlangsung, guru harus dapat memusatkan perhatian siswa. Pemusatan perhatian dapat dilakukan dengan cara:
1)      Merumuskan tujuan atau topik diskusi.
2)      Menyatakan masalah-masalah yang spesifik dan menegaskan kembali bila terjadi penyimpangan.
3)      Menandai dengan cermat pembicaraan yang tidak relevan yang akan menyimpang dari tujuan diskusi.
4)      Membuat rangkuman sementara atau tradisional sebelum melanjutkan kepada masalah berikutnya.
b)     Memperlancar Permasalahan
Permasalahan dapat diperjelas dengan cara:
1)      Merangkum ide-ide siswa.
2)      Melacak komentar siswa.
3)      Menguraikan dan memperluas pandangan siswa dengan cara memberikan informasi tambahan.
c)      Menganalisis Pandangan Siswa
Analisis pandangan siswa berkaitan erat dengan usaha guru memperjelas permasalahan. Maksudnya agar kelompok tetap berada dalam suasana partisipasi dan konstruktif.

d)     Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi
Partisipasi semua anggota kelompok sangat penting. Untuk itu diperlukan kemampuan guru meningkatkannya. Beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh guru antara lain:
1)               Memberikan pertanyaan langsung kepada siswa yang kurang berpartisipasi.
2)               Mencegah kegaduhan, menghindarkan pembicaraan serentak.
3)               Mencegah secara bijaksana siswa yang suka memonopoli pembicaraan.
4)               Mendorong siswa untuk memberi komentar terhadap pendapat teman.
5)               Menutup diskusi.
Ketrampilan menutup diskusi dapat diidentifikasikan sebagai:
1)               Membuat rangkuman secara jelas dan singkat tentang butir-butir yang penting.
2)               Memberitahukan langkah tindak lanjut hasil diskusi Dan mengajak siswa menilai hasil dan proses diskusi.
g.      Keterampilan Mengelola Kelas
1.      Pengertian dan Tujuan
Ketrampilan mengelola kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikan kekondisi yang optimal jika terjadi gangguan, baik dengan cara mendisiplinkan ataupun melakukan kegiatan remedial. Tujuan Penggunaan Komponen dalam Kelas, yaitu:
a)      Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya.
b)      Membantu siswa untuk mengerti tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan, dan bukan kemarahan.
c)      Menimbulkan rasa kewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.
d)     Ketrampilan yang berkaitan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal.
2.      Komponen-Komponen Mengelola Kelas
a)      Ketrampilan yang berkaitan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
b)      Menunjukkan sikap tanggap, melalui perbuatan sikap tanggap ini siswa merasakan bahwa “guru hadir bersama dengan mereka” dan “tahu apa yang mereka perbuat”. Kesan ini dapat ditunjukkan dengan cara memandang kelas secara seksama, gerak mendekati, memberikan pernyataan, dan memberikan reaksi terhadap gangguan serta kekacauan.
c)      Membagi perhatian, pengelola kelas yang efektif ditandai dengan pembagian perhatian yang efektif pula.
d)     Memusatkan perhatian kelompok, perbuatan ini penting untuk mempertahankan perhatian siswa dari waktu kewaktu dan dapat dilaksanakan dengan cara menuntut tanggungjawab siswa.
e)      Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas.
h.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
1.      Pengertian
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan adalah kemampuan guru/instruktur/widyaiswara dalam mengembangkan terjadinya hubungan interpersonal yang sehat dan akrab antara guru siswa, maupun antara siswa dan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun perorangan.



2.      Komponen-Komponen Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Komponen ketarampilan yang digunakan, yakni :

a)       Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
Adalah terjadinya hubungan yang sehat dan akrab atara guru dengan siswa,dan siswa dengan siswa.keterampilan seperti ini hanya bias dilakukan apabila guru memiliki keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi.pendekatan ini dapat dilakkan dengan cara:
1)               Menunjukan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan dan perilaku siswa
2)               Mendengar dengan penuh rasa simpati gagasan yang dikemukakan siswa
3)               Merespon secara positif pendapat siswa
4)               Membangun hubungan rasa saling mempercayai
5)               Menunjukan kesiapan untuk membantu siswa
6)               Menunjukan kesediaan untuk menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian.
7)               Berusaha mengendalikan situasi agar siswa merasa aman,terbantu,dan mampu menemukan pemecahan masalah yang dihadapi.
b)     Keterampilan mengorganisasi
Selama kegiatan kelompok kecil atau perseorangan berlangsung, guru berperan sebagai organisator yang mengatur dan memonitor kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam hal ini guru memerlukan keterampilan sebagai berikut:
1)      Memberikan orientasi umum tentang tujuan dan tugas yang akan dilakukan
2)      Memvariasikan kegiatan yang mencangkup penyediaan ruangan, peralatan, dan cara melaksanakannya.
3)      Membentuk kelompok yang tepat
4)      Mengoordinasikan kegiatan
5)      Membagi perhatian kepada berbagai tugas da kebutuhan siswa
6)      Mengakhiri kegiatan dengan laporan hasil yang dicapai oleh siswa
c)      Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu siswa untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai bila guru memilki keterampilan sebagai berikut:
1)      Memberikan penguatan yang merupakan dorongan yang penting bagi siswa untuk maju
2)      Mengembangkan supervisi proses awal yakni sikap tanggap guru terhadap siswa baik individu maupun kelompok yang memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan
3)      Mengdakan supervisi proses lanjut yang memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan ketika kegiatan berlangsung.
4)      Mengadakan supervisi pemaduan yang memusatkan perhatian pada penilan pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan yang dilakuan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan sehingga siswa saling belajar dan memperolah wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan mendatangi kelompok, menilai kemajuannya, dan menyiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan akhir cara yang efektif. Untuk maksud ini ialah mengingatkan siswa akan waktu yang masih tersisa untuk menyelesaikan tugas, misalnnya, “waktu tinggal 15 menit lagi. Pukul 10.15 semua kelompok harus sudah siap dengan laporannya.”
d)     Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar mencangkup :
1)      Membantu siswa menetapkan tujuan pelajaran dan menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tersebut.
2)      Merencanakan kegiatan mengajar bersama siswa yang mencangkup kreteria keberhasialan, langkah-langkah kerja, waktu, serta kondisi belajar
3)      Bertindak dan berperan sebagai penasehat bagi siswa bila diperlukan
4)      Membantu siswa menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Ini berarti memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki dirinya sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan siswa dalam situasi pendidikan yang manusiawi.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keterampilan dasar mengajar (teaching skill) adalah kemampuan atau keterampilan yang khusus yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan professional. Adapun alasan mengapa pentingnya keterampilan mengajar adalah tenaga pendidik adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat Dengan munculnya UU ini guru/dosen sudah diakui sebagai tenaga professional setara dengan profesi lain. Yang dimaksud profesional di sini adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Ada 8 keterampilan dasar mengajar, yakni :
1.      Keterampilan Bertanya
2.      Keterampilan Memberi Penguatan
3.      Keterampilan Mengadakan Variasi
4.      Keterampilan Menjelaskan
5.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran
6.      Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
7.      Keterampilan Mengelola Kelas
8.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan


B.     Saran
Sebagai seorang calon guru, hendaknya keterampilan dasar  mengajar ini kita pahami secara benar agar kelak dalam pelaksanaan belajar mengajar dapat berjalan lancar.






1 komentar: